Rabu, 29 Juli 2015

Israel Terus Memaksa Masuk ke Al-Aqsa

Israel Terus Memaksa Masuk ke Al-Aqsa
Foto: imemc

 ACTNews
, YERUSALEM - Kelompok sayap kanan Israel kembali menyerang kompleks Masjid Al-Aqsa, Senin (27/7) kemarin. Atas aksi ini Perserikatan Bangsa Bangsa menyatakan keprihatinan atas kemungkinan terjadinya ‘provokasi  agama’ di sekitar situs-situs suci yang terdapat di Kota Tua, daerah pendudukan di Yerusalem Timur itu.

Para saksi mata mengatakan, sekitar 70-an orang dari kelompok kanan yahudi memasuki kompleks Al-Aqsa melalui Pintu Maroko yang berada dalam pengawasan polisi Israel. Bukannya mencegah, polisi Israel justru menyerang dan menahan seorang warga Palestina yang sedang beribadah di Al-Aqsa bernama Ahmad Asaliyyeh, juga seorang perempuan Palestina yang baru saja meninggalkan kompleks masjid.

Insiden ini membuat situasi di sekitar Yerusalem Timur semakin memanas, setelah sehari sebelumnya sejumlah warga Palestina yang sedang beribadah di Masjid Al-Aqsa bentrok dengan tentara dan polisi Israel  yang menggeruduk masuk kedalam kompleks dan masjid. Akibat insiden itu 19 warga Palestina dan 4 polisi Israel mengalami luka.

Utusan Khusus PBB untuk proses perdamaian di Timur Tengah, Nickolay Mladenov, mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi insiden terbaru yang terjadi, yang disebutnya sebuah insiden yang menaikkan tensi di Yerusalem. Nickolay meminta semua pihak yang terlibat insiden untuk tetap tenang. “Tindakan dan pernyataan yang bersifat provokatif hanya akan membesarkan bibit kekerasan dan merusak akses semua jamaah dari berbagai agama untuk beribadah di kompleks suci itu. Menghormati penerapan status  quo di kompleks itu adalah cara terbaik untuk menjaga stabilitas.”

Seperti diberitakan sebelumnya, pasukan Israel telah menahan 8 warga Palestina dari Masjid Al-Aqsa di hari Jum’at, dan hari Senin pengadilan Israel telah menjatuhkan  sanksi pada 4 warga Palestina untuk memasuki Masjid Al-Aqsa selama 60 hari ke depan. Dania Eid and Alaa Bashi,  dua orang Palestina berkewarganegaran Israeli dilarang memmasuki komples Al-Aqsa selama 60 days. Sementara dua orang Palestina dari Tepi Barat, Akram Daana dan seorang remaja bernama Fadi, menadapatkan larang 30 dan 45 hari memasuki kompleks Al-Aqsa.

Di hari Minggu, kelompok sayap kanan Israel mengunjungi kompleks Kota Tua Yerusalem Timur untuk memperingati hari “Tisha B'Av”,  sebuah perayaan hari berpuasa kaum Yahudi untuk memperingati penghancuran kuil Yahudi pertama dankedua. Tempat suci ketiga bagi umat Islam, kompleks Masjid Al-Aqsa juga dianggap sebagai tempat yang suci oleh kaum Yahudi dimana di sini sebelumnya mereka yakini menjadi lokasi berdirinya satu kuil yang paling mereka hormati.  (INA/bams)

Sumber

http://act.id/id/donation

Senin, 27 Juli 2015

Penderitaan Warga Gaza tak Pernah Selesai

Gaza-Suffering
 
Nampaknya kebahagiaan idul fitri tak akan bisa bertahan lama dalam deru nafas masyarakat Gaza, Palestina. Setelah satu tahun lalu dibombardir habis oleh pasukan bersenjata Israel, warga Gaza menjalani satu tahun terakhir dengan beratapkan langit tanpa rumah, beralaskan tanah dingin, bahkan nihil tempat beribadah. Mau tak mau mereka harus rela menikmati hidup dengan penuh keterbatasan, tiap langkah dalam bayang-bayang kungkungan tentara Israel.

Usai lebaran ini pun, kabar baik masih belum berpihak bagi ribuan warga Gaza. Kabar tentang rencana akbar bantuan pembangunan rumah dari sejumlah lembaga donor kemanusiaan internasional kembali ditunda, hal ini disebabkan karena kebijakan dadakan tentara Israel yang memperketat masuknya aliran bahan bangunan ke dalam Kota Gaza.

Sejumlah total 18.000 unit rumah hancur total berubah wujud menjadi puing-puing kecil setelah serangan udara, darat, dan laut dari tentara Israel membombardir wilayah Gaza selama 50 hari pada ramadhan tahun lalu. Kala itu, menjelang gencatan senjata, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menjalankan program kemanusiaan kilat di tengah kecamuk perang, mereka mengubah 91 sekolah di Gaza menjadi tempat penampungan sementara bagi lebih dari 300.000 warga Gaza. Hingga detik ini, penampungan tersebut masih ditempati oleh pengungsi yang tak memiliki rumah, beberapa penampungan pun ditutup oleh PBB mengingat keterbatasan dana operasional kemanusiaan yang dimiliki PBB di Palestina.

Hari ini, masih ada sedikitnya 100.000 ribu penduduk Gaza yang berstatus sebagai tunawisma, tanpa rumah, tanpa pendidikan, tanpa pekerjaan sama sekali. Jumlah tersebut jika dikalkulasikan merupakan 5 persen dari total keseluruhan penduduk Perbatasan Gaza yang berjumlah 1,8 juta jiwa.
Dilansir oleh Dream.co.id, Seorang warga Palestina yang menyandang tunawisma, Fouad Abu Asser, 54 tahun, dan keluarganya telah memutuskan untuk kembali dari pengungsian di perbatasan Gaza ke rumahnya. Namun ternyata, rumah yang ditinggalkannya sejak setahun lalu setelah diserang oleh tentara Israel masih berbentuk puing-puing reruntuhan. Padahal Fouad telah mendapat kabar bahwa gabungan lembaga kemanusiaan Internasional akan membangun rumah-rumah yang hancur milik warga Gaza.

Akhirnya, Fouad merasa amat frustasi karena kenyataannya tentara Israel masih menutup rapat gerbang perbatasan dan mempersulit dengan syarat-syarat ketat untuk proses distribusi bahan bangunan. Rencana bantuan pembangunan rumah dari sejumlah lembaga donor pun terpaksa mengalami penundaan. Entah sampai kapan?

Akhirnya kini, Fouad dan warga Gaza senasib lainnya terpaksa mendirikan rumah seadanya dengan cara apapun yang bisa mereka usahakan. Puing-puing yang masih tersisa mereka manfaatkan untuk sekadar membangun atap dan lantai yang layak. Fouad bisa membuat tiga ruangan untuk tempat tinggalnya bersama keluarga besarnya yang berjumlah 15 orang.

Selain derita tunawisma, Bank Dunia pun merilis fakta, sebanyak 44 persen warga Gaza di hari ini adalah pengangguran akibat kecamuk konflik satu tahun lalu.
Sampai kapan penderitaan mereka akan berakhir? (CAL)
Sumber

Rabu, 08 Juli 2015

Setahun Setelah Perang, Kegetiran Masih Terasa di Gaza



REPUBLIKA.CO.ID, BAIT HANOUN -- Ali Wahdan, guru matematika dari Gaza, kehilangan satu kaki, istri dan 11 anggota keluarga saat Israel membombardir kota Beit Hanoun tahun lalu saat hendak menumpas kelompok Hamas.

Hampir 12 bulan kemudian, dokter mengamputasi satu-satunya kaki tersisa milik Wahdan. Sementara hampir dalam semua bidang kehidupan lain, masa depan dan kehidupan Wahdan masih hancur.

"Perang telah berakhir, tatapi tidak bagi tragedi saya. Setahun ini saya menghabiskan waktu hanya untuk berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya," kata pria 36 tahun yang kini setiap harinya harus memakai kursi roda itu.

"Setahun lalu saya masih bisa berdiri untuk mengajar murid-murid. Hari ini, saya bahkan tidak bisa membantu anak-anak saya sendiri," tuturnya.

Perang memang telah berakhir. Namun sebagaimana cerita Wahdan, penduduk Jalur Gaza masih kesulitan menghadapi dampak dari konflik tersebut.

Dampak dari perang 50 hari itu terlihat di mana-mana. Lebih dari 12 ribu rumah hancur, sementara 100 ribu lainnya rusak, tanpa ada satu pun yang sudah dibangun ulang.

Wahdan kini harus tinggal di penampungan yang dibangun dari kayu, terpal biru, dan seng. Jauh dari bangunan berlantai empat yang dulu dia punya.

Derita akibat perang juga dialami oleh mereka yang belum dewasa. Lebih dari 70 persen anak, di area yang menderita kerusakan paling parah, sampai saat ini masih mengalami trauma, demikian menurut organisasi Save the Childern.

Dalam konflik tahun lalu, 500 di antara 2.100 korban dari pihak Palestina adalah anak-anak. Sementara itu, di seberang perbatasan, kerusakan memang tidak telalu nampak meski dampak perang juga terasa.

Donasikan bantuan ke
http://act.id

Israel-Gaza Saling Serang Lagi, Terprovokasi Simpatisan ISIS

http://act.id

Liputan6.com, Yerussalem - Ledakan demi ledakan kembali terjadi di Gaza dan Israel. Militer Israel berdalih bahwa serangannya ke Gaza, sebagai balasan atas tembakkan roket dari militan Palestina yang mengenai 3 kamp pelatihan.

"Tiga roket ditembakkan ke Israel dari Gaza. Tidak ada korban," kata polisi seperti dikutip dari Reuters, Kamis (4/6/2015).

Serangan balasan setelah sirene peringatan terdengar di kota-kota Israel di dekat perbatasan antara kedua wilayah tersebut, dibenarkan oleh militer Israel. Mereka mengatakan tembakan roket mereka mengenai kamp pelatihan di Jalur Gaza.

"Serangan fajar mengenai dua kamp milik Hamas yang mendominasi di Gaza dan kelompok militan, menyebabkan beberapa kerusakan tetapi tidak ada korban," ungkap saksi dan petugas medis di sana.
Roket-roket yang ditujukan ke Kota Ashkelon dan Netivot di Israel, adalah yang kedua dalam sepekan sebagai balasan dari serangan Gaza -- sejak perang 50 hari ditengahi gencatan senjata pada bulan Agustus -- di dekat kota pelabuhan Ashdod.

Belakangan diketahui sebuah kelompok simpatisan ISIS, Islam Salafi mengklaim bertanggung jawab atas atas penembakan tiga roket ke Israel dari Jalur Gaza. Mereka membuat pernyataan tersebut melalui akun Twitter.

Kelompok yang menamakan dirinya Brigade Omar mengatakan, penembakan roket itu adalah pembalasan atas terbunuhnya seorang simpatisan ISIS dalam baku tembak dengan Hamas di Gaza. Mereka menembakkan dari perbatasan antara kedua wilayah.

Mungkinkah itu cara mereka memprovokasi Negeri Zionis untuk menyerang Gaza? (Tnt)

Salurkan bantuan ke

http://act.id

Rabu, 01 Juli 2015

Pemuda Gaza Ditembak Zionis Saat Ngabuburit


JALUR GAZA, Selasa (Electronic Intifada): Senin lalu (22/6), serdadu Zionis menembak empat remaja berusia 16 hingga 17 tahun di desa Khuza’a, selatan Jalur Gaza. Dua remaja tertembak di bagian kaki. Satu orang yang terluka dalam kondisi kritis.

Empat sekawan itu tengah berjalan-jalan ke ujung desa untuk menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa (ngabuburit). “Kami ke sana untuk menghabiskan waktu menjelang ifthar (berbuka puasa),” kata Muhammad Sami Abu Reda (17) kepada Electronic Intifada. Muhammad merupakan satu dari dua remaja yang luput dari tembakan pada Senin lalu. “Itu merupakan daerah yang sangat indah. Kita bisa melihat sawah dan lahan pertanian. Kami ke sana karena daerah yang biasanya tertutup itu sekarang terbuka. Zionis mengatakan kami bisa pergi ke sana,” jelasnya.
Terluka Parah

Bulan lalu, pemerintahan Hamas di Gaza mengumumkan pembukaan sebuah jalan yang melewati sepanjang buffer zone, yakni no-go area atau wilayah yang sama sekali tidak boleh dilewati warga Palestina. Buffer zone meliputi lahan yang luas di Gaza yang berbatasan dengan ‘Israel, di timur dan utara.

Berdasarkan syarat gencatan senjata Agustus lalu antara Hamas dan ‘Israel’, seharusnya ukuran buffer zone diperkecil. Dan masih belum jelas di area mana warga Palestina bisa aman berjalan-jalan, mengemudi ataupun bertani. Menurut Pusat HAM Palestina (PCHR), pada bulan Mei serdadu Zionis menembak 14 orang yang berada dekat perbatasan sehingga enam orang terluka.
Islam Samir Tawfiq Abu Reda (16) merupakan salah satu pemuda yang tertembak pada Senin lalu. Berbaring di ranjang rumah sakit, ia mengatakan pada Electronic Intifada bahwa, “Semua orang berjalan di jalanan itu karena telah diumumkan dalam tayangan berita bahwa (jalanan) itu telah dibuka (boleh dilewati-red).”

Peluru Zionis mengenai betis Islam. Meski lukanya memerlukan lebih dari selusin jahitan, ia pulih dengan baik. Namun, pemuda lainnya, Ibrahim Abu Reda, masih berada dalam perawatan intensif. Dua peluru masuk ke kaki kanannya, satu dekat pergelangan kaki dan lainnya di bawah lutut sehingga meremukkan tulang keringnya dan memutus pembuluh darah, serta arteri.

Dokter yang merawatnya, Dr. Qasim Kamel mengatakan pada Electronic Intifada ia berharap ia tidak perlu mengamputasi kaki pemuda itu. Ibrahim menjalani operasi selama enam jam di Rumah Sakit Eropa dekat Rafah, kota di selatan Gaza. Kamel berharap kaki Ibrahim akan sembuh setelah dioperasi.

Di rumah Ibrahim, orangtuanya menunjukkan pada reporter foto-foto saat anaknya mengangkat beban dan berolahraga. Ayahnya, Jamal Ahmad Abu Reda, mengatakan Ibrahim tergabung dalam klub sepak bola dan suka pergi ke gym (sasana olahraga). Ia terlihat berupaya keras tidak menangis saat menceritakan anaknya. Namun, air mata bercucuran di wajahnya. Sambil menangis, Safaa Abu Reda, ibunda Ibrahim mengatakan, “Hak saya untuk melihat anak saya berjalan.”

Ia sangat khawatir bahwa anaknya tidak akan bisa menerima perawatan memadai di Gaza dan ingin ia dipindahkan ke ‘Israel’. Para dokter mengatakan padanya bahwa kemungkinan Ibrahim akan bisa berjalan lagi sangat tipis, yakni sekitar 15 persen. Ibunda Ibrahim percaya peluangnya akan lebih tinggi jika ia bisa dirawat di ‘Israel’. “Mengapa mereka melakukan ini pada anak saya? Ia tidak memiliki senjata. Ia ada di sana hanya untuk jalan-jalan dan bersenang-senang, seperti yang lainnya,” katanya.

Ibrahim merupakan adik dari Ahmed Abu Reda (18), yang digunakan sebagai tameng manusia oleh serdadu Zionis selama lima hari saat perang musim panas lalu. Hal itu terdokumentasi saat Dewan Hak Asasi Manusia PBB baru-baru ini melakukan penyelidikan independen atas serangan ‘Israel’ ke Gaza.

Ahmed ditangkap oleh serdadu Zionis pada 23 Juli saat mencoba meninggalkan Khuza’a dengan keluarganya saat terjadi serangan darat Zionis selama 11 hari di desa tersebut.

Buffer Zone

Sebelum siapapun mencapai perbatasan Khuza’a dengan ‘Israel’, ia harus melewati lahan pertanian dan rumah kaca dimana para petani menanam tomat, melon, cabai dan timun di kapling yang dibatasi dengan semak belukar. Saat seseorang mendekati ‘Israel’, sebuah pagar yang tidak mencolok nampak. Ada menara pengawas Zionis di situ. Itu adalah perbatasan.

Sejak 2005, Zionis menggunakan buffer zone untuk mencegah para petani melewati lahan pertanian mereka dengan aman yang terletak di dalam buffer zone itu. Awalnya zona itu hanya membentang seluas 150 meter ke dalam Gaza, namun Zionis terus memperluasnya dari waktu ke waktu. Pada tahun 2010, buffer zone menjadi area seluas 300 meter yang membujur sepanjang tembok perbatasan.
Ketika wilayah tersebut seharusnya dikurangi 100 meter menyusul disepakatinya gencatan senjata, Hamdi Shaqqura, wakil direktur PCHR mengatakan pada Electronic Intifada bahwa orang-orang yang berada sejauh 500 meter dari perbatasan malah ditembak. “Tak ada jaminan dari Zionis atau masyarakat internasional bahwa warga Palestina akan memiliki akses ke tanah mereka sendiri,” katanya.

Awal tahun ini, Gisha, organisasi Zionis yang memantau kemampuan Palestina untuk bergerak bebas masuk dan keluar Gaza, mengirimkan permintaan informasi kepada militer Zionis mengenai kebijakan mereka terhadap buffer zone menyusul adanya gencatan senjata. Seperti halnya PCHR, data mereka juga menunjukkan bahwa larangan (masuk dan keluar) dilaksanakan di wilayah yang lebih luas dari yang secara resmi dideklarasikan. Hingga kini Gisha belum mendapat respon dari militer Zionis mengenai hal itu.

“Tembakan Tanpa Suara”

Di rumah sakit, Electronic Intifada bertemu dengan dua pemuda yang bersama Ibrahim dan Islam saat mereka tertembak. Muhammad Sami Abu Reda (17) mengatakan tak ada tanda-tanda serdadu Zionis berkeliaran di sekitar tempat kejadian. Para remaja itu hanya berhenti sejenak dari berjalan-jalan ketika Islam tiba-tiba jatuh ke tanah. Kemudian, Ibrahim juga jatuh. Kata Muhammad, tembakannya tanpa suara. “Tak ada tembakan peringatan,” jelas Muhammad.
Muhammad dan pemuda lainnya, Hisham Abu Mutliq (17) coba membopong teman-teman mereka, tapi Zionis terus menembak ke arah mereka. “Kami lari, tapi serdadu Zionis terus menembak,” kata Hisham. Para pemuda itu bisa menggunakan telepon genggam mereka untuk menelepon ambulans, tapi bantuan tidak tiba dalam 15 menit. Mereka yang terluka terbaring di tanah berlumuran darah.* (Electronic Intifada | Sahabat Al-Aqsha)

Sumber : http://sahabatalaqsha.com/nws/?p=17068

http://act.id

ISIS ancam gulingkan kekuasaan Hamas di Jalur Gaza


Grup militan Negara Islam Irak serta Syam (ISIS) tempo hari (30/6), meneror selekasnya menggulingkan Otoritas Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza, Palestina. Militan khilafah menilainya Hamas tak akan menggerakkan ketentuan Islam dengan cara kaffah.

Video ISIS menginformasikan ancaman itu direkam di Suriah. Khilafah style baru ini menuding Hamas telah berkompromi dengan golongan kafir, sesudah bersedia mengadakan gencatan senjata dengan Israel atas prakarsa Amerika Serikat.

 " Kami bakal menukar posisi (Hamas) dalam memerangi Yahudi Israel serta seluruhnya yg tidak beragama. Kami bakal menyusup masuk dalam jumlah banyak ke tempat kalian, " ucap seseorang anggota ISIS berpenutup muka yang mengalamatkan pesan itu pada pejabat Hamas, seperti diambil website Channel News Asia, Rabu, (1/7).

ISIS menekan warga Palestina berbaiat pada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi. " Kami bakal mengaplikasikan aturan keislaman di Gaza seperti yang sudah kami aplikasikan di Syam serta Kamp Yarmouk, " ucap jubir ISIS itu.

Sebatas info, beberapa ribu pengungsi Palestina yang lari dari Gaza sesudah terserang Israel th. lantas, ada di penampungan Yarmouk, dekat Ibu Kota Damaskus, Suriah. Serangan sebagian militan ISIS ke komplek pengungsi itu tiga bln. lantas, menyulut perseteruan dengan pejuang Hamas.

Saat Hamas serta ISIS ikut serta konflik, Menteri Intelijen Israel, Israel Katz, menuding keduanya sebenarnya sama-sama bekerja bersama. Pertikaian ISIS serta Hamas dinilai pejabat Zionis ini juga sebagai sandiwara.

 " Ada kerja sama pada mereka dalam penyelundupan senjata serta serangan teroris, Mesir serta Saudi sudah mengetahui hal semacam itu, " ucap Katz dalam Konferensi pers di Tel Aviv yang diselenggarakan oleh Jurnal Pertahanan Israel.

 " Tetapi memanglah kurun waktu berbarengan ISIS juga sering menghina eksistensi Hamas serta Israel dalam argumen paling utama mereka membenci yahudi, " tambah Katz.

Awal Juni lantas, Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Hamas membetulkan pihaknya sudah menewaskan pria bernama Youris al-Honnor, yang disangka kuat juga sebagai sebagai sisi dari simpatisan ISIS. Militer Hamas sangat terpaksa menghabisi Youris serta sebagian rekannya lantaran lebih dahulu terserang saat berpatroli di pinggiran Gaza.

Sumber : http://okey-banget.blogspot.com/2015/07/isis-ancam-gulingkan-kekuasaan-hamas-di.html


http://act.id