Selasa, 04 Agustus 2015

Siap Berqurban? Ini Negara Miskin di Dunia yang Jarang Menikmati Lezatnya Daging Qurban

Siap-Berqurban
Tak beberapa lama lagi idul qurban akan menjelang. Jika melihat penanggalan tahun 2015 ini, Idul Adha atau Idul Qurban akan jatuh pada tanggal 24 September 2015. Sebagai syariat yang diutamakan dalam agama Islam, qurban adalah suatu bentuk kenikmatan tiada tara jika dapat berbagi kenikmatan daging hewan qurban dengan saudara sesama muslim. Qurban adalah cara untuk mensyukuri rezeki dengan keikhlasan dalam berbagi.

Tengok saja, tak akan lama lagi jejeran pedagang hewan qurban akan menghiasi sepanjang jalan raya. Mereka berlomba-lomba menjajakan hewan qurban terbaik demi kebahagiaan terbaik. Sudah siap berqurban di tahun ini? silahkan simak dulu fakta berikut.

Qurban adalah kenikmatan rezeki dan keikhlasan pengorbanan yang bersifat universal. Namun, biasanya qurban yang disalurkan di Indonesia hampir 95% hanya mencakup penyaluran di wilayah-wilayah lokal di dalam negeri. Padahal katanya qurban itu universal? Bagaimana dengan nasib kaum sesama muslim di belahan dunia lainnya? Apakah mereka dapat merasakan lezatnya daging qurban sama dengan apa yang kita rasakan?

Nyatanya banyak negara miskin, rawan pangan, wilayah bencana alam dan konflik kemanusiaan di seluruh penjuru dunia yang sama sekali tak bisa merasakan indahnya berbagi kebahagian di idul qurban nanti.

Setiap tahunnya, umat Islam yang berada di negara Afrika Tengah menghadapi tekanan yang luar biasa. Dari populasi umat Muslim yang semula berjumlah 625 ribu penduduk, kini tinggal tersisa 1.000 orang. Setiap harinya, konflik berlatar agama terus menerus menyudutkan muslim di tanah negara-negara Afrika Tengah.

Beberapa negara di Afrika Tengah yang layak untuk dijadikan target qurban Anda tahun ini adalah negara Somalia, Kamerun, dan Kenya. Selain itu, jangan pula terlupa kisah penderitaan saudara sesama muslim di Jalur Gaza Palestina. Selama satu dekade terakhir, bisa dipastikan tak ada daging qurban yang mampu mereka (warga palestina) usahakan untuk dinikmati bersama. Hanya melalui uluran tangan dan donasi hewan qurban dari pihak luar lah yang mampu mencipta senyum mereka atas lezatnya hewan qurban di Gaza.

Masih ada pula negara-negara muslim yang sedang berkonflik semacam Jordania, Palestina, Bosnia, Suriah, Bangladesh, Srilanka, Myanmar, Thailand Selatan, Vietnam, Kamboja, Filipina, dan Timor Leste.

Jika sudah berniat untuk mendistribusikan hewan qurban dalam skala global, syaratnya hanya satu: siapkan kocek yang lebih tebal dibadingkan harga hewan qurban di Indonesia.
Patut diketahui, misalnya Untuk berqurban di Gaza, masyarakat setidaknya harus menyumbangkan dana Rp 4,95 juta untuk satu ekor kambing. Harga itu adalah harga qurban di tahun lalu. Dibandingkan di dalam negeri, harga hewan qurban ini memang hampir 3 kali lipat lebih mahal dari kambing lokal.

Jika kocek telah siap, silahkan kontak lembaga kemanusiaan yang sudah berpengalaman untuk mendistribusikan hewan qurban hingga ke pelosok dunia. Satu lembaga yang sangat aktif dalam urusan distribusi Global Qurban adalah lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Sebagai gambaran, pada tahun lalu ACT menyalurkan hewan qurban untuk luar Indonesia seperti Palestina, Suriah, Yordania, Mesir, Somalia, Afrika Tengah, Kamerun, Srilangka dan banyak negara lainnya. (CAL)

Sumber

 

Minggu, 02 Agustus 2015

Israel Terus Memaksa Masuk ke Al-Aqsa

Israel Terus Memaksa Masuk ke Al-Aqsa
Foto: imemc
 ACTNews, YERUSALEM - Kelompok sayap kanan Israel kembali menyerang kompleks Masjid Al-Aqsa, Senin (27/7) kemarin. Atas aksi ini Perserikatan Bangsa Bangsa menyatakan keprihatinan atas kemungkinan terjadinya ‘provokasi  agama’ di sekitar situs-situs suci yang terdapat di Kota Tua, daerah pendudukan di Yerusalem Timur itu.

Para saksi mata mengatakan, sekitar 70-an orang dari kelompok kanan yahudi memasuki kompleks Al-Aqsa melalui Pintu Maroko yang berada dalam pengawasan polisi Israel. Bukannya mencegah, polisi Israel justru menyerang dan menahan seorang warga Palestina yang sedang beribadah di Al-Aqsa bernama Ahmad Asaliyyeh, juga seorang perempuan Palestina yang baru saja meninggalkan kompleks masjid.

Insiden ini membuat situasi di sekitar Yerusalem Timur semakin memanas, setelah sehari sebelumnya sejumlah warga Palestina yang sedang beribadah di Masjid Al-Aqsa bentrok dengan tentara dan polisi Israel  yang menggeruduk masuk kedalam kompleks dan masjid. Akibat insiden itu 19 warga Palestina dan 4 polisi Israel mengalami luka.

Utusan Khusus PBB untuk proses perdamaian di Timur Tengah, Nickolay Mladenov, mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi insiden terbaru yang terjadi, yang disebutnya sebuah insiden yang menaikkan tensi di Yerusalem. Nickolay meminta semua pihak yang terlibat insiden untuk tetap tenang. “Tindakan dan pernyataan yang bersifat provokatif hanya akan membesarkan bibit kekerasan dan merusak akses semua jamaah dari berbagai agama untuk beribadah di kompleks suci itu. Menghormati penerapan status  quo di kompleks itu adalah cara terbaik untuk menjaga stabilitas.”

Seperti diberitakan sebelumnya, pasukan Israel telah menahan 8 warga Palestina dari Masjid Al-Aqsa di hari Jum’at, dan hari Senin pengadilan Israel telah menjatuhkan  sanksi pada 4 warga Palestina untuk memasuki Masjid Al-Aqsa selama 60 hari ke depan. Dania Eid and Alaa Bashi,  dua orang Palestina berkewarganegaran Israeli dilarang memmasuki komples Al-Aqsa selama 60 days. Sementara dua orang Palestina dari Tepi Barat, Akram Daana dan seorang remaja bernama Fadi, menadapatkan larang 30 dan 45 hari memasuki kompleks Al-Aqsa.

Di hari Minggu, kelompok sayap kanan Israel mengunjungi kompleks Kota Tua Yerusalem Timur untuk memperingati hari “Tisha B'Av”,  sebuah perayaan hari berpuasa kaum Yahudi untuk memperingati penghancuran kuil Yahudi pertama dankedua. Tempat suci ketiga bagi umat Islam, kompleks Masjid Al-Aqsa juga dianggap sebagai tempat yang suci oleh kaum Yahudi dimana di sini sebelumnya mereka yakini menjadi lokasi berdirinya satu kuil yang paling mereka hormati.  (INA/bams)

Sumber

Gaza dan Tepi Barat Memanas, Perburuk Krisis Kemanusiaan di Palestina


ACTNews, PALESTINA – Pasca penodaan atas kiblat pertama umat Islam, yakni masjid Al-Aqsa, warga Yahudi Zionis kembali membuat masalah. Sejumlah warga Zionis Israel melakukan pembakaran terhadap rumah warga Palestina. Satu orang warga Kota Gaza tewas dan puluhan luka-luka.

Pada Jumat di pagi hari saat satu keluarga di Nablus masih tidur lelap, tiba-tiba segerombolan Yahudi Zionis membakar sebuah rumah warga Palestina. Seorang bocah Palestina berusia 18 bulan, tewas terpanggang

Atas tindak brutal tersebut, pejuang Palestina di Gaza membalas dengan melontarkan roket ke wilayah Israel. Tak lama, angkatan laut Zionis Israel menembak secara membabi buta dari arah laut ke arah pemukiman warga Gaza di Bait Lahiyah, Gaza bagian Utara.

Akibat rentetan tembakan secara membabi buta tersebut,  seorang warga sipil Gaza bernama Muhammad Hamid Almasry berusia 29 tahun meninggal, dan melukai beberapa orang lainnya. Muhammad Hamid Almasry sempat dievakusi ke Rumah Sakit Kamal Udwan Gaza Utara. Namun nyawanya tidak tertolong karena beberapa peluru bersarang di tubuh dan bagian dada korban.

Sudah memasuki tahun ke-9 kini wilayah Gaza masih di blokade pihak Israel, krisis kemanusiaan semakin menambah penderitaan warga Palestina.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza City mengatakan rumah sakit di Gaza alami kelangkaan obat-obatan, terjadi pengurangan sampai 38 persen. Begitu juga alat kesehatan khususnya alat kesehatan sekali pakai (alat disposilbe), alami penyusutan hingga 37 persen. Beberapa alat kesehatan rusak  permanen dan tak bisa digunakan lagi.

Warga Gaza juga masih menghadapi dampak ikutan dari krisis air dan listrik. Bahan makanan, air minum dan alat penerang alternatif yang serba terbatas mengancam kehidupan normal warga Gaza, Palestina. Sekitar 1,8 juta jiwa warga Gaza menggantungkan harapan hidup mereka dari bahan makanan pokok yang dipasok dari pintu perlintasan Rafah.Terowongan yang sudah dihancurkan oleh militer zionis Israel, tak mungkin lagi jadi jalur alternatif pemasokan bahan pangan warga Gaza. (diolah dari laporan relawan Indonesia yang tinggal di Palestina, Abdillah Onim, foto: eramuslim).

Sumber