Minggu, 02 Agustus 2015
Gaza dan Tepi Barat Memanas, Perburuk Krisis Kemanusiaan di Palestina
ACTNews, PALESTINA – Pasca penodaan atas kiblat pertama umat Islam, yakni masjid Al-Aqsa, warga Yahudi Zionis kembali membuat masalah. Sejumlah warga Zionis Israel melakukan pembakaran terhadap rumah warga Palestina. Satu orang warga Kota Gaza tewas dan puluhan luka-luka.
Pada Jumat di pagi hari saat satu keluarga di Nablus masih tidur lelap, tiba-tiba segerombolan Yahudi Zionis membakar sebuah rumah warga Palestina. Seorang bocah Palestina berusia 18 bulan, tewas terpanggang
Atas tindak brutal tersebut, pejuang Palestina di Gaza membalas dengan melontarkan roket ke wilayah Israel. Tak lama, angkatan laut Zionis Israel menembak secara membabi buta dari arah laut ke arah pemukiman warga Gaza di Bait Lahiyah, Gaza bagian Utara.
Akibat rentetan tembakan secara membabi buta tersebut, seorang warga sipil Gaza bernama Muhammad Hamid Almasry berusia 29 tahun meninggal, dan melukai beberapa orang lainnya. Muhammad Hamid Almasry sempat dievakusi ke Rumah Sakit Kamal Udwan Gaza Utara. Namun nyawanya tidak tertolong karena beberapa peluru bersarang di tubuh dan bagian dada korban.
Sudah memasuki tahun ke-9 kini wilayah Gaza masih di blokade pihak Israel, krisis kemanusiaan semakin menambah penderitaan warga Palestina.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza City mengatakan rumah sakit di Gaza alami kelangkaan obat-obatan, terjadi pengurangan sampai 38 persen. Begitu juga alat kesehatan khususnya alat kesehatan sekali pakai (alat disposilbe), alami penyusutan hingga 37 persen. Beberapa alat kesehatan rusak permanen dan tak bisa digunakan lagi.
Warga Gaza juga masih menghadapi dampak ikutan dari krisis air dan listrik. Bahan makanan, air minum dan alat penerang alternatif yang serba terbatas mengancam kehidupan normal warga Gaza, Palestina. Sekitar 1,8 juta jiwa warga Gaza menggantungkan harapan hidup mereka dari bahan makanan pokok yang dipasok dari pintu perlintasan Rafah.Terowongan yang sudah dihancurkan oleh militer zionis Israel, tak mungkin lagi jadi jalur alternatif pemasokan bahan pangan warga Gaza. (diolah dari laporan relawan Indonesia yang tinggal di Palestina, Abdillah Onim, foto: eramuslim).
Sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar