Kamis, 25 Juni 2015

Duka Ramadhan di Garis Depan Palestina

Duka-palestina-di-ramadhan

Tanah Palestina, satu buah negara penuh kisah historis berkaitan berjayanya Islam ribuan thn dulu. Waktu Ini, Palestina tidak ubahnya medan “latihan” perang. Jadi ajang pertempuran ga ada batas tiap-tiap harinya oleh tentara Israel yg haus dapat pertempuran. Korbannya? Siapa lagi jikalau bukan warga pinggir batas Palestina yg tidak bersalah. Mereka menjaga garis terpenting yg membatasi Palestina & Israel utk membebaskan Masjidil Aqsha yg sudah terlepas dari umat Islam sejak Desember 1917 silam.
Di tiga garis batas Palestina : Jalur Gaza, Kota Al-Quds & West Point atau Pinggir Barat, jutaan keluarga muslim Palestina lakukan ibadah ramadhan 1436 H dgn kehidupan yg jauh dari pantas, tetapi ancaman kesengsaraan akibat kekejaman tentara zionis Israel tidak menyurutkan niat & tekad meraka buat masih berkukuh.
Telah nyaris menjelang 9 th Jalur Gaza dikepung, dipantau 24 jam penuh dgn senjata kelas berat dari tentara Israel. Kehidupan ekonomi masyarakatnya diembargo. Seputar 1.8 juta jiwa penduduknya dikurung & diawasi tiap-tiap gerak geriknya dalam penjara raksasa berbentuk Kota mati Gaza, 365 km persegi luasnya.
Seluruhnya penjuru mata angin Kota Gaza sudah ditanam tembok tinggi yg membatasi tegas kehidupan penduduk di dalam tembok & warga diluar tembok. Di sebelah Utara Gaza ada tembok setinggi 10 m & panjang 4 kilo meter. Sebelah Barat Gaza juga ada batas alam berupa laut Mediterania yg terjaga 24 jam sehari oleh banyak kapal tentara zionis Israel. disebelah Selatan Gaza ada tembok Mesir dgn tinggi 7 m sepanjang 5 kilo meter. & di Timur Gaza ada pagar kawat dua lapis dgn aliran tegangan listrik yg amat sangat mematikan bagi siapapun yg berani melintasinya. Pagar kawat listrik ini membentang sepanjang 50 kilo meter.
Bayangkan, betapa ekstremnya penjara nomor satu agung yg dibentuk oleh zionis Israel utk membendung warga Palestina dari beraneka arah. Imbasnya, sejak Desember th dulu, ada lebih dari 30 ribu orang yg dicegah utk ke luar dari Gaza. Ribuan orang di antaranya yaitu pasien penyakit kronis yg pilih utk ke luar Gaza demi pengobatan, tapi konsisten tiada peluang. Bahkan utk Umroh serta mereka dilarang.
Sekarang masyarakat Palestina di Pinggir Gaza yakni penjaga mutlak buat Masjidil Aqsa yg masihlah kukuh menetap di pinggir batas. Meski penghancuran & perampasan rumah-rumah keluarga muslim Palestina tetap tetap berjalan sampai sekarang. Tetapi mereka masihlah berikhtiar lakukan ibadah ramadhan dalam segala keterbatasan. Mereka masih percaya, pedang Allah yg bakal menang. Kebolehan iman satu orang muslim yg disayang Allah benar-benar dapat masihlah diuji oleh bertubi-tubi cobaan & penindasan. Keadaan itulah yg sekarang sedang berlangsung di Gaza, Kota Al Quds, & Pinggir Barat, Palestina.
Derita mereka yakni duka kita, Ramadhan merupakan momentum paling indah utk menyantuni & menyelamatkan air mata duka saudara muslimin di seluruhnya dunia.
Hapus duka mereka ialah ladang pahala bagi kita, InsyaAllah bakal bahagiakan akhirat kita. (CAL)

SUMBER SUMBER

Tidak ada komentar:

Posting Komentar