Bulan Ramadhan 1435 Hijriyah ini menggelegar, dan masih berlanjut hingga Syawal. Serangan Israel atas Palestina menjadi pemicu kepedulian global. Fenomena itu terasa pula di tengah kiprah Aksi Cepat Tanggap (ACT), lembaga kemanusiaan global berpusat di Jakarta. Perlu kematangan kelembagaan, menerima mandat kemanusiaan yang melonjak drastis.
Tragedi Palestina bukan peristiwa tiba-tiba. Palestina, wajah dehumanisasi global bertahun-tahun lamanya. Mengisahkan satu negeri yang seolah berjuang sendiri (meski hakikatnya mereka bersama Tuhannya) melawan aneksisasi Israel dan sekutunya; bahkan di sela berjuang, Palestina masih peduli nasib rakyat tertindas lainnya - seperti di Somalia, etnik Rohingya di Myanmar atau muslim di Afrika Tengah. Jelang kemerdekaan RI, ada kisah seorang syekh Palestina menitipkan semua tabungannya di Bank Arab, melalui pelajar pejuang kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah, untuk menyokong upaya-upaya kemerdekaan Indonesia. Kita sudah lama merdeka, sejak 1945, tapi Palestina malah terus dijajah dan terus diperangi – seolah hingga habis!
Seutuhnya, negeri dan tanah air mereka Palestina; kebangsaan mereka pun Palestina, menoreh sejarah panjang aneksasi Yahudi, komunitas tak bertanah air yang mendeklarasikan negara Israel tahun 1948 di tanah yang dihuni bangsa Palestina. Konspirasi dunia lewat perundingan demi perundingan pasca perang demi perang, memperkecil wilayah Palestina sampai hanya tersisa jalur Gaza. Dunia Islam pun seolah tak memberi kemajuan berarti dalam mewujudkan Palestina Berdaulat. Meski serangan di Ramadhan 1435 Hijriyah hingga Syawal ini menewaskan lebih 1600 jiwa, semangat mempertahankan Palestina tak pernah padam.
Mesir, tetangga terdekat Palestina, kondang sebagai penghambat serius aliran bantuan kemanusiaan untuk Gaza-Palestina. Lingkar negeri terdekat Palestina pun tak menampakkan wujud pembelaan konkret saat rakyat Palestina di Gaza dihabisi bahkan dalam serangan tak imbang berkekuatan senjata modern, dihadapi pertahanan sipil Palestina. Begitu banyak pihak berkuasa di sekitar Palestina, mendiamkan pemusnahan bangsa Palestina.
Di sisi lain, rakyat di banyak negara peduli Palestina dan mengutuk Israel. Dukungan kemanusiaan deras mengalir dari negeri-negeri yang jauh dari Palestina. Dari Indonesia, gemuruh suara dan simpati menyeruak, nyaris di semua provinsi kepedulian itu berkumandang. Kegairahannya dari Ramadhan hingga Syawal ini masih saja bersahutan, seiring bombardemen Israel yang terus menerus menambah angka korban jiwa terutama warga Palestina.
Sampai dua pekan setelah Ramadhan berdarah di Palestina, tak kurang dari 30 ribu donor perorangan menitipkan bantuan untuk Palestina melalui ACT, tak kurang 200 komunitas (jamaah masjid, sivitas akademika sekolah dan kampus, paguyuban ini itu, ikatan karyawan, persekutuan warga, perusahaan kecil-menengah bahkan komunitas tukang sablon kaos), berdonasi untuk Palestina. Kegairahan itu masih berlanjut.
Palestina punya daya ungkit kemanusiaan amat hebat. Ketakberimbangan serangan (bukan perang), kegigihan rakyat Palestina bertahan di Tanah Air, dan momentum Ramadhan, melejitkan kepedulian. “Ini menakutkan. Besarnya amanah masyarakat terhadap Palestina melalui ACT, capaiannya luar biasa, belum pernah kita capai sepanjang sembilan tahun ACT berdiir,” ungkap Ahyudin, Presiden ACT. Mengapa menakutkan?
Ahyudin menjelaskan, berbagai level ekonomi, sudah rela menyumbang untuk Palestina. Yang baru beli sepeda, merelakan sepedanya disumbangkan karena tak punya dana cash lagi. Dia berikan sepedanya untuk siapa saja yang bisa menunjukkan bukti sudah nyumbang untuk Palestina senilai Rp sejuta. Tak lama kemudian sejak diumumkan di facebook-nya, sepeda itu sudah pintah tangan ke orang yang sudah nyumbang Palestina.
Ada lagi, anak-anak SD merelakan tabungannya, semua untuk Palestina. Tukang sablon di Pisangan, Ciputat (kabupaten Tangerang), nyablon kaos Palestina dalam dua hari laku 600 potong, semua ongkos sablonnya tidak diambil, disumbang untuk Palestina. “Jumlahnya signifikan untuk orang kecil seperti mereka, 26 jutaan rupiah, dan mereka terus menggalang dukungan lewat kaos sablonannya,” ujar Ahyudin.
Kata Ahyudin, ketika semua mengamanahkan kepercayaan lewat ACT, sanggupkah pegiat kemanusiaan di ACT,”Tetap tawadhu’, unjuk kinerja terbaiknya untuk Palestina, bahkan sama seriusnya dengan rakyat palestina di gaza yang sewaktu-waktu kehilangan nyawanya. Kami juga layak merasa takut menjadi munafik terimbas liburan Lebaran. Bagaimana bisa kita leha-leha, sementara saudara-saudara kita di Gaza sedetik pun tak lepas dari ancaman Israel.”
Donasi masyarakat untuk Palestina melalui ACT, tersalur dalam tiga fase: darurat, pemulihan sosial dan fisik. “Emosi masyarakat membantu Palestina, harus bisa membuahkan dukungan jangka panjang. Hasil penggalangan donasi dalam masa-masa emosionakl seperti sekarang,m harys bisa memberi maslahat jauh ke depan, tidak habis sesaat di fase darurat saja,”ungkap Ahyudin.
Maka, ACT belajar dari pengalaman di ranah krisis kemanusiaan global menetapkan, pada tahap awal, tak ada yang lebih diperlukan dan itu masih sangat langka, kecuali pangan. Kebutuhan pokok terutama gandum, harus dibantu serius. Karena itu ACT sudah mengirim 50 ton gandum, 5.2 ton daging dalam Ramadhan lalu. “Kami segera kirim lagi 100 ton gandum, berapapun harganya, karena rakyat Palestina di Gaza perlu bantuan pangan,” ungkap Ahyudin.
Manajemen bantuan, perlu bijak, agar masyarakat Palestina memperoleh dukungan langsung penopang keberlangsuhan kehidupan di Gaza. Anda peduli? Salurkan dana simpati anda melalui Rekening SOS Palestine: BSM 101 000 5557 | BRI 092 401 000018 304 | Muamalat 304 0031 870 | Mandiri 128000 4593338 | BNI 014 076 5481 | BCA 676 030 0860. An. Aksi Cepat Tanggap.
Tragedi Palestina bukan peristiwa tiba-tiba. Palestina, wajah dehumanisasi global bertahun-tahun lamanya. Mengisahkan satu negeri yang seolah berjuang sendiri (meski hakikatnya mereka bersama Tuhannya) melawan aneksisasi Israel dan sekutunya; bahkan di sela berjuang, Palestina masih peduli nasib rakyat tertindas lainnya - seperti di Somalia, etnik Rohingya di Myanmar atau muslim di Afrika Tengah. Jelang kemerdekaan RI, ada kisah seorang syekh Palestina menitipkan semua tabungannya di Bank Arab, melalui pelajar pejuang kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah, untuk menyokong upaya-upaya kemerdekaan Indonesia. Kita sudah lama merdeka, sejak 1945, tapi Palestina malah terus dijajah dan terus diperangi – seolah hingga habis!
Seutuhnya, negeri dan tanah air mereka Palestina; kebangsaan mereka pun Palestina, menoreh sejarah panjang aneksasi Yahudi, komunitas tak bertanah air yang mendeklarasikan negara Israel tahun 1948 di tanah yang dihuni bangsa Palestina. Konspirasi dunia lewat perundingan demi perundingan pasca perang demi perang, memperkecil wilayah Palestina sampai hanya tersisa jalur Gaza. Dunia Islam pun seolah tak memberi kemajuan berarti dalam mewujudkan Palestina Berdaulat. Meski serangan di Ramadhan 1435 Hijriyah hingga Syawal ini menewaskan lebih 1600 jiwa, semangat mempertahankan Palestina tak pernah padam.
Mesir, tetangga terdekat Palestina, kondang sebagai penghambat serius aliran bantuan kemanusiaan untuk Gaza-Palestina. Lingkar negeri terdekat Palestina pun tak menampakkan wujud pembelaan konkret saat rakyat Palestina di Gaza dihabisi bahkan dalam serangan tak imbang berkekuatan senjata modern, dihadapi pertahanan sipil Palestina. Begitu banyak pihak berkuasa di sekitar Palestina, mendiamkan pemusnahan bangsa Palestina.
Di sisi lain, rakyat di banyak negara peduli Palestina dan mengutuk Israel. Dukungan kemanusiaan deras mengalir dari negeri-negeri yang jauh dari Palestina. Dari Indonesia, gemuruh suara dan simpati menyeruak, nyaris di semua provinsi kepedulian itu berkumandang. Kegairahannya dari Ramadhan hingga Syawal ini masih saja bersahutan, seiring bombardemen Israel yang terus menerus menambah angka korban jiwa terutama warga Palestina.
Sampai dua pekan setelah Ramadhan berdarah di Palestina, tak kurang dari 30 ribu donor perorangan menitipkan bantuan untuk Palestina melalui ACT, tak kurang 200 komunitas (jamaah masjid, sivitas akademika sekolah dan kampus, paguyuban ini itu, ikatan karyawan, persekutuan warga, perusahaan kecil-menengah bahkan komunitas tukang sablon kaos), berdonasi untuk Palestina. Kegairahan itu masih berlanjut.
Palestina punya daya ungkit kemanusiaan amat hebat. Ketakberimbangan serangan (bukan perang), kegigihan rakyat Palestina bertahan di Tanah Air, dan momentum Ramadhan, melejitkan kepedulian. “Ini menakutkan. Besarnya amanah masyarakat terhadap Palestina melalui ACT, capaiannya luar biasa, belum pernah kita capai sepanjang sembilan tahun ACT berdiir,” ungkap Ahyudin, Presiden ACT. Mengapa menakutkan?
Ahyudin menjelaskan, berbagai level ekonomi, sudah rela menyumbang untuk Palestina. Yang baru beli sepeda, merelakan sepedanya disumbangkan karena tak punya dana cash lagi. Dia berikan sepedanya untuk siapa saja yang bisa menunjukkan bukti sudah nyumbang untuk Palestina senilai Rp sejuta. Tak lama kemudian sejak diumumkan di facebook-nya, sepeda itu sudah pintah tangan ke orang yang sudah nyumbang Palestina.
Ada lagi, anak-anak SD merelakan tabungannya, semua untuk Palestina. Tukang sablon di Pisangan, Ciputat (kabupaten Tangerang), nyablon kaos Palestina dalam dua hari laku 600 potong, semua ongkos sablonnya tidak diambil, disumbang untuk Palestina. “Jumlahnya signifikan untuk orang kecil seperti mereka, 26 jutaan rupiah, dan mereka terus menggalang dukungan lewat kaos sablonannya,” ujar Ahyudin.
Kata Ahyudin, ketika semua mengamanahkan kepercayaan lewat ACT, sanggupkah pegiat kemanusiaan di ACT,”Tetap tawadhu’, unjuk kinerja terbaiknya untuk Palestina, bahkan sama seriusnya dengan rakyat palestina di gaza yang sewaktu-waktu kehilangan nyawanya. Kami juga layak merasa takut menjadi munafik terimbas liburan Lebaran. Bagaimana bisa kita leha-leha, sementara saudara-saudara kita di Gaza sedetik pun tak lepas dari ancaman Israel.”
Donasi masyarakat untuk Palestina melalui ACT, tersalur dalam tiga fase: darurat, pemulihan sosial dan fisik. “Emosi masyarakat membantu Palestina, harus bisa membuahkan dukungan jangka panjang. Hasil penggalangan donasi dalam masa-masa emosionakl seperti sekarang,m harys bisa memberi maslahat jauh ke depan, tidak habis sesaat di fase darurat saja,”ungkap Ahyudin.
Maka, ACT belajar dari pengalaman di ranah krisis kemanusiaan global menetapkan, pada tahap awal, tak ada yang lebih diperlukan dan itu masih sangat langka, kecuali pangan. Kebutuhan pokok terutama gandum, harus dibantu serius. Karena itu ACT sudah mengirim 50 ton gandum, 5.2 ton daging dalam Ramadhan lalu. “Kami segera kirim lagi 100 ton gandum, berapapun harganya, karena rakyat Palestina di Gaza perlu bantuan pangan,” ungkap Ahyudin.
Manajemen bantuan, perlu bijak, agar masyarakat Palestina memperoleh dukungan langsung penopang keberlangsuhan kehidupan di Gaza. Anda peduli? Salurkan dana simpati anda melalui Rekening SOS Palestine: BSM 101 000 5557 | BRI 092 401 000018 304 | Muamalat 304 0031 870 | Mandiri 128000 4593338 | BNI 014 076 5481 | BCA 676 030 0860. An. Aksi Cepat Tanggap.
Foto: Kehancuran permukiman di Gaza, membangunkan kepedulian global. (Dok. ACT)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar